Pentingnya Suhu Penyimpanan Obat dalam Cold Storage

1 hari yang lalu
Pentingnya Suhu Penyimpanan Obat dalam Cold Storage

Obat berperan penting dalam membantu proses penyembuhan dan meredakan gejala penyakit. Namun, manfaatnya hanya dapat terjaga jika suhu penyimpanan obat dalam cold storage diperhatikan dengan baik. 


Selain bahan pangan, cold storage kini juga banyak digunakan di sektor farmasi untuk menjaga stabilitas obat tertentu dengan standar penyimpanan khusus. Penyimpanan yang tidak sesuai dapat merusak kualitas obat dan menurunkan efektivitas zat aktif di dalamnya. Oleh karena itu, obat perlu disimpan dalam kondisi yang aman agar terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia. 


Lalu, mengapa suhu penyimpanan obat di fasilitas cold storage perlu diperhatikan secara ketat? Simak penjelasan lengkapnya pada artikel berikut.

Mengapa Suhu Penyimpanan Obat Memerlukan Perhatian Khusus?

Tidak semua obat bisa disimpan pada suhu ruang. Beberapa jenis, seperti vaksin, insulin, hormon, enzim, supositoria, hingga produk bioteknologi sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan cahaya. Jika disimpan pada suhu yang tidak sesuai, obat dapat kehilangan efektivitas, mengalami degradasi zat aktif, bahkan berisiko membahayakan pasien.


Pada dasarnya, penyimpanan obat bertujuan menjaga stabilitas, keamanan, dan mutu agar tetap optimal saat digunakan. Oleh karena itu, obat harus ditempatkan di ruang khusus yang tidak bercampur dengan barang lain serta mengikuti petunjuk pada kemasan, misalnya penyimpanan di lemari pendingin dengan suhu 2°C–8°C untuk jenis tertentu.


Standar penyimpanan juga perlu disesuaikan dengan bentuk sediaan, sifat bahan, stabilitas suhu, ketahanan terhadap cahaya, hingga sistem penataan, seperti alfabetis dan FEFO (First Expired First Out). 


Singkatnya, menjaga suhu dan sistem penyimpanan obat bukan sekadar prosedur teknis, tetapi bagian penting untuk memastikan obat tetap aman, stabil, dan memberikan manfaat sesuai fungsinya.

Jenis-Jenis Obat yang Memerlukan Cold Storage

Beberapa jenis obat membutuhkan penyimpanan di cold storage karena sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Jika tidak disimpan pada suhu yang tepat, kualitas dan efektivitas obat dapat menurun. Berikut beberapa contohnya:


  • Vaksin: Sebagian besar vaksin harus disimpan pada suhu 2–8 °C agar stabil dan tetap efektif saat digunakan.

  • Insulin: Obat untuk penderita diabetes ini sensitif terhadap panas sehingga perlu disimpan dalam kondisi dingin.

  • Obat injeksi biologis: Contohnya, antibodi monoklonal yang memerlukan suhu rendah untuk menjaga stabilitasnya.

  • Enzim dan hormon: Kedua jenis zat ini mudah rusak jika disimpan pada suhu yang terlalu tinggi.

  • Produk bioteknologi: Termasuk beberapa terapi modern, seperti terapi gen, yang membutuhkan pengendalian suhu ketat selama penyimpanan.


Baca juga: Yuk, Kenali Perbedaan Cold Storage dengan Freezer Biasa!

Berapa Suhu Penyimpanan Obat di Cold Storage?

Suhu menjadi faktor utama dalam penyimpanan obat di fasilitas cold storage. Berdasarkan pedoman WHO, BPOM, serta Farmakope Indonesia, obat dan produk farmasi disimpan pada rentang suhu tertentu agar kualitas dan stabilitasnya tetap terjaga.


Pada sistem rantai dingin farmasi, penyimpanan umumnya dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu:

  • Suhu dingin (chilled) berada pada kisaran 2–8°C dan biasanya disimpan di chiller atau cold room

  • Suhu beku (frozen farmasi) berkisar antara -25°C hingga -10°C. 

  • Beberapa produk khusus, seperti vaksin tertentu, digunakan dalam ultra-low frozen dengan suhu sekitar -70°C atau lebih rendah.


Dalam praktiknya, produk cold chain, seperti Cold Chain Product (CCP), disimpan di chiller pada suhu 2–8°C atau di frozen pada suhu -18°C hingga -23°C. 


Penataan produk juga tidak boleh terlalu padat dan perlu diberi jarak dari dinding serta antarpoduk agar sirkulasi udara tetap merata.


Suhu penyimpanan harus stabil dan tidak berfluktuasi karena perubahan suhu, meski hanya beberapa derajat, dapat memengaruhi kualitas obat terutama dalam hal kestabilan zat aktif, efektivitas dan keamanan obat.

Akibat Obat yang Tidak Disimpan sesuai Suhu

Penyimpanan obat yang tidak sesuai suhu dapat menimbulkan berbagai masalah pada kualitasnya. Pasalnya, obat yang disimpan secara sembarangan bisa mengalami perubahan kandungan zat aktif sehingga manfaatnya tidak lagi optimal, bahkan berpotensi membahayakan. Selain itu, obat juga dapat rusak lebih cepat meskipun belum mencapai tanggal kedaluwarsa. 


Perlu diketahui, masa kedaluwarsa hanya berlaku jika obat masih dalam kemasan asli, belum dibuka, dan disimpan sesuai petunjuk pada label. Setelah kemasan dibuka, stabilitas zat aktif bisa menurun atau terkontaminasi kuman. 


Beberapa obat memiliki ketentuan waktu kadaluwarsa penggunaannya apabila kemasannya sudah dibuka, sebagai contoh, obat tetes mata hanya dapat digunakan maksimal sampai dengan 30 hari apabila kemasannya sudah dibuka


Kerusakan obat akibat penyimpanan yang salah juga dapat terlihat dari perubahan fisiknya, seperti munculnya bau tidak sedap, timbulnya bintik hitam, pecahnya, atau menjadi lembap. Kondisi ini menandakan obat sudah tidak layak digunakan.


Baca juga: Mengenal Cara Kerja Cold Storage serta Manfaat Penggunaannya

Tips Memilih Cold Storage yang Aman untuk Obat

Memilih cold storage untuk penyimpanan obat tidak bisa dilakukan sembarangan. Fasilitas yang digunakan harus mampu menjaga stabilitas suhu sekaligus memenuhi standar penyimpanan farmasi agar kualitas obat tetap terjaga. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:


  • Gunakan cold storage khusus farmasi agar tidak tercampur dengan produk lain, seperti makanan.

  • Pastikan terdapat sistem pemantauan suhu otomatis untuk menjaga suhu tetap stabil selama penyimpanan.

  • Manfaatkan teknologi pemantauan, seperti sensor IoT untuk memantau suhu dan kelembapan secara real-time serta data logger yang mencatat riwayat suhu sebagai bukti kepatuhan terhadap regulasi.

  • Tersedia alarm otomatis yang akan memberikan peringatan jika suhu keluar dari batas standar.

  • Lakukan kalibrasi sensor suhu secara rutin agar hasil pemantauan tetap akurat.

  • Gunakan sistem FEFO (First Expired, First Out) untuk memastikan obat dengan masa kedaluwarsa terdekat digunakan lebih dahulu.

  • Sediakan sumber listrik cadangan, seperti genset atau UPS, agar cold storage tetap berfungsi saat terjadi pemadaman listrik.

  • Terapkan SOP penyimpanan yang mengikuti standar dari WHO dan BPOM.

Dengan fasilitas dan pengelolaan yang tepat, penyimpanan obat dalam cold storage dapat membantu menjaga mutu, keamanan, dan efektivitas obat sampai ke tangan pengguna.


Itulah penjelasan mengenai pentingnya suhu penyimpanan obat dalam fasilitas cold storage untuk menjaga kualitas dan stabilitas obat. 


Penyimpanan pada suhu yang tepat membantu mencegah perubahan sifat obat sehingga kandungan dan efektivitasnya tetap terjaga hingga digunakan oleh pasien.


Dalam praktik logistik rantai dingin, pengelolaan penyimpanan dan distribusi produk sensitif suhu membutuhkan sistem yang terintegrasi dan pemantauan yang akurat. 


MGM Bosco Logistics merupakan penyedia layanan cold chain logistics end-to-end dengan dukungan fasilitas gudang berpendingin, lebih dari 1.000 truk pendingin yang dilengkapi thermo-logger dan GPS, serta sistem manajemen gudang dan transportasi yang memungkinkan pemantauan operasional secara real-time.


Bagi Anda yang ingin berkonsultasi lebih lanjut mengenai solusi cold storage atau layanan logistik rantai dingin, langsung saja hubungi tim MGM Bosco sekarang!


Baca juga: Mengenal 6 Jenis Industri yang Membutuhkan Cold Storage